Profil Pendiri

PROFIL DJOENAEDI JOESOEF

Djoenaedi Joesoef adalah pendiri/founder dari PT Konimex Solo, penerima anugerah Entrepreneur of The Year 2003 dari lembaga Ernst & Young, yang kemudian mewakili Indonesia dalam Ernst & Young World Entrepreneur of the Year 2004 di Monaco.

Pada tanggal 8 Juni 1967, Djoenaedi Joesoef mendirikan PT Konimex Pharmaceutical Laboratories. Bidang usaha Konimex waktu itu adalah perdagangan obat-obatan, bahan kimia, alat laboratorium dan alat kedokteran. Dalam perkembangannya PT Konimex memulai produksi obat-obatan sendiri. Salah satu terobosan PT Konimex adalah pada tahun 1972 memproduksi produk farmasi over the counter (OTC) dengan kemasan praktis 4 tablet.

Kunci sukses bisnis Djoenaedi Joesoef dalam mengembangkan bisnisnya di PT Konimex adalah berpegang pada falsafah 3MU, yaitu Mutu (memproduksi barang yang berkualitas tinggi), Mudah (terdistribusi dengan baik sehingga mudah ditemukan oleh konsumen) serta Murah (harga yang terjangkau).

Selain itu nilai-nilai yang selalu ditekankan oleh Djoenaedi Joesoef dalam berbisnis adalah pertama: kerja keras dan belajar seumur hidup; kedua, apapun yang dilakukan tujuan akhirnya adalah hidup tentram dan bahagia, sehingga dengan kebahagiaan, manusia dapat membahagiakan orang lain, yang merupakan cermin dari kredo “damai dalam rumah tangga, berkembang dalam segala usaha” serta ketiga, hubungan yang baik dan dengan relasi bisnis dan pemasok yang harus dipandang sebagai mitra yang turut membesarkan bisnis.

 

PROFIL KWIK KIAN GIE

Kwik Kian Gie lahir pada tahun 1935 di Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Setelah menamatkan pendidikan SMA, ia melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama setahun untuk tingkat persiapan. Kemudian, pada tahun 1956, beliau melanjutkan studi ke Nederlandsche Economiche Hogeschool Rotterdam yang kini bernama Erasmus Universiteit Rotterdam, hingga lulus pada tahun 1963. Banyak ekonom Indonesia dan pernah menduduk posisi tinggi dalam politik nasional merupakan jebolan perguruan tinggi ini. Termasuk di antaranya Wakil Presiden RI yang pertama Mohammad Hatta, dan beberapa mantan menteri seperti Sumitro Djojohadikusumo, Radius Prawiro dan Arifin Siregar.

Sejak duduk di bangku SMA, ia sudah mengetahui apa yang dikehendaki dalam hidup. Dalam wawancara dengan salah satu media massa, ia menyampaikan bahwa sejak di bangku SMA beliau merasa bahwa kehadirannya di dunia hanya berarti kalau karyanya bermanfaat bagi orang banyak. Perwujudan yang konkret ialah kalau beliau berhasil ikut serta dalam penyelenggaraan negara maupun dalam pendidikan. Pada tahun 1954 beliau mendirikan SMA Erlangga di Surabaya, dan beliau menjadi murid kelas 3 SMA tersebut yang lulus pada tahun 1955. Pada tahun 1968 Kwik Kian Gie menjadi anggota pengurus Yayasan Trisakti sampai sekarang. Pada tahun 1982 bersama-sama dengan Prof. Panglaykim mendirikan sekolah MBA yang pertama di Indonesia, yaitu Institut Manajemen Prasetiya Mulya. Kemudian, pada tahun 1987, KKG bersama Djoenaedi Joesoef dan Kaharuddin Ongko mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBI) yang kini telah bernama Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie (Kwik Kian Gie School of Business).

Sekembalinya di tanah air, beliau menggeluti dunia bisnis, sambil menulis di berbagai media massa tentang ekonomi dan politik. Pada tahun 1987 beliau bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia. Dalam tahun yang sama beliau mewakili PDI sebagai anggota Badan Pekerja MPR. Ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum PDI yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan, KKG menduduki jabatan Ketua DPP merangkap Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan.

Sebagai kader PDI Perjuangan, KKG pernah menjadi Wakil Ketua MPR RI, Menko EKUIN, Anggota Komisi IX DPR RI dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Untuk semua karyanya, KKG memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana RI.